Showing posts with label Tips Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Tips Edukasi. Show all posts

Cara Membantu Anak Anda Sukses di Sekolah Dasar

Siswa Berprestasi (sumber:yahyasyahrizalsukses.blogspot.com)
Bimbingan dan dukungan orangtua merupakan hal terpenting yang membantu anak untuk sukses di bidang akademik.

Berikut ini adalah 10 cara agar orangtua dapat mendidik anaknya untuk menjadi siswa yang sukses.

1. Kenali guru-gurunya
Anak remaja Anda dapat berprestasi lebih baik jika orangtua mereka terlibat dalam kehidupan akademiknya. Menghadiri acara sekolah adalah cara yang baik untuk melihat bagaimana sekolah anak Anda, juga mengenal gurunya. Anda juga dapat bertemu dengan wali kelasnya untuk membahas program dan aturan sekolah, serta berbagai pilihan yang perlu diketahui orangtua dan wali murid.

Menghadiri pertemuan guru dan murid adalah cara yang bagus untuk tetap mengetahui informasi dari sekolah. Di banyak sekolah, guru biasanya hanya akan memanggil orangtua saat ada masalah tingkah laku anak atau jika nilai anjlok, tapi jangan sungkan untuk membuat janji dengan gurunya dan bertemu untuk membahas perkembangan akademis anak Anda, atau kebutuhan khususnya.

Ingat bahwa orang tua atau wali memiliki hak untuk bertemu dengan guru, kepala sekolah, atau staff lainnya selama anak masih terdaftar sebagai siswa di sekolah tersebut.

2. Kunjungi sekolah
Mengetahui lay out dan tata letak gedung sekolah dapat membantu Anda terhubung dengan anak Anda saat sedang berbicara tentang harinya di sekolah. Cari tahu di mana lokasi kelasnya, UKS, kantin, tempat olahraga, lapangan, taman bermain, aula, dan ruang guru, sehingga Anda bisa membayangkan dunia anak Anda saat ia sedang bercerita.

Banyak guru kini memiliki website khusus yang memuat detail pekerjaan rumah, tanggal ujian, dan acara dan perjalanan kelas. Atau mungkin hal ini tercantum di website sekolah anak Anda. Jika ya, Anda dapat menggunakan website tersebut untuk selalu ter-update dengan hal-hal yang terjadi di sekolah.

3. Ciptakan suasana dan tempat yang mendukung untuk belajar dan membuat PR
Pekerjaan rumah atau PR akan membuat anak mengingat pelajaran di kelas dan melatih kemampuan belajar yang penting. Ini juga membantu anak untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dan etos kerja yang akan bermanfaat di luar kelas.

Selain memastikan anak Anda tahu bahwa PR adalah prioritas, Anda dapat membantunya dengan membuat lingkungan belajar yang efektif. Sediakan ruang belajar yang rapi, nyaman, tenang, dan lengkap dengan semua hal yang ia butuhkan untuk mengerjakan PR. Hindari distraksi seperti TV dan buatlah jadwal kapan ia harus mulai dan kapan ia harus selesai.

Aturan yang bagus untuk PR dan waktu belajar yang efektif adalah sekitar 10 menit per tingkat sekolah dasar. Misalnya, murid kelas 3 SD,  harusnya menghabiskan waktu 30 menit untuk mengerjakan PR atau belajar di malam hari. Kelas 4 SD perlu menghabiskan waktu 40 menit. Jika Anda mendapati bahwa waktu pengerjaan PR anak Anda lebih lama daripada ini, bicaralah dengan guru anak Anda.

Saat anak Anda mengerjakan PR, selalu siap sedia untuk mengartikan instruksi tugas, menawarkan bimbingan, menjawab pertanyaan, dan mengulas tugasnya yang sudah selesai. Tapi jangan langsung menyediakan jawaban atau mengerjakan PR anak Anda sendiri. Belajar dari kesalahan adalah bagian dari proses dan Anda tidak boleh merebut ini dari anak Anda.

4. Pastikan anak Anda berangkat ke sekolah dalam kondisi siap belajar
Sarapan yang bernutrisi membantu anak Anda untuk siap belajar seharian. Umumnya, anak yang rajin sarapan memiliki energi yang lebih dan akan beraktivitas lebih baik di sekolah. Anak-anak yang menyantap sarapan juga jarang absen dan jarang masuk UKS dengan masalah perut yang berkaitan dengan rasa lapar.

Anda dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat anak dengan menyediakan sarapan yang kaya akan kacang-kacangan, serat, protein, dan rendah gula. Jika anak Anda tak ada waktu untuk sarapan di rumah, bawakan ia bekal berupa susu, kacang, yogurt, dan roti dengan selai kacang atau roti isi pisang.

Remaja memerlukan waktu tidur sekitar 8,5 hingga 9,5 jam setiap malamnya sementara pra-remaja (usia 12-14) bahkan rata-rata butuh minimal 10 jam tidur setiap malam agar ia siaga dan siap belajar seharian. Namun, jam masuk sekolah yang sangat pagi, ditambah PR, aktivitas ekstrakurikuler, dan nongkrong dengan teman-temannya membuat banyak remaja mengalami masalah kurang tidur. Efeknya, ia akan sulit berkonsentrasi, memori jangka pendeknya menurun, dan responnya lambat.

5. Tanamkan kemampuan manajemen waktu
Jika anak Anda terorganisir, ia akan mampu untuk fokus pada pelajaran dibandingkan menghabiskan waktunya pada hal-hal lain yang kurang penting.

Apa artinya terorganisir bagi anak-anak usia sekolah dasar? Di sekolah, ini berarti memiliki buku khusus untuk mencatat tugas dan PR. Beberapa sekolah biasanya sudah menyediakan hal ini. Periksa buku tugas anak Anda setiap malam sehingga Anda tahu apa saja yang harus dikerjakan dan apakah dia sudah mengerjakannya.

Bicarakan dengan anak Anda tentang cara menjaga mejanya tetap rapi sehingga kertas-kertas tugasnya yang harus ia bawa pulang tidak berserakan dan hilang. Ajari anak Anda cara bagaimana cara menggunakan kalender dan jadwal agar tetap terorganisir.

Ajari juga anak Anda untuk selalu membuat to-do list alias daftar hal yang harus dikerjakan, sesuai dengan prioritasnya. Tidak ada orang yang terlahir dengan kemampuan manajemen waktu. Ini adalah skill yang harus dipelajari dan dipraktikkan, dan anak akan mempelajarinya dari Anda.

6. Ajarkan kemampuan belajar
Bersiap-siap untuk ujian dapat menjadi hal yang menakutkan untuk anak kecil dan banyak guru berasumsi bahwa orangtua akan membantu belajar untuk menghadapi ujian. Mengenalkan anak Anda kepada cara belajar yang baik sejak dini akan menghasilkan kebiasaan belajar yang bagus di kehidupannya di masa depan.

Di sekolah dasar, anak-anak biasanya harus menghadapi ujian maematika, membaca, ilmu pengetahuan alam, pengetahuan sosial, dan sebagainya. Pastikan Anda tahu kapan saja jadwal ujian sehingga Anda dapat membantu anak Anda belajar dari jauh-jauh hari dan tidak mendadak di malam sebelumnya. Anda juga perlu mengingatkan anak Anda untuk mencatat hal-hal penting yang ia pelajari di sekolah, supaya ia bisa mengulasnya kembali di rumah.

Ajarkan anak Anda bagaimana cara membagi tugas yang besar menjadi sejumlah tugas-tugas kecil supaya lebih mudah dikerjakan. Ingatlah untuk beristirahat setelah belajar selama 45 menit. Ini penting untuk membantu proses anak dalam mengingat informasi.

7. Ketahui aturan sekolah
Semua sekolah mempunyai aturan dan konsekuensi mengenai perilaku siswanya. Sekolah biasanya mencantumkan kebijakan kedisiplinannya (terkadang disebut kode etik sekolah) di buku pegangan siswa. Aturan ini mencakup tata krama siswa, cara berpakaian, penggunaan alat elektronik, dan konsekuensi yang harus dihadapi jika melanggar aturan.

Kebijakan ini juga dapat mencakup aturan dan sanksi untuk kehadiran/absensi, vandalisme, mencontek, berkelahi, dan membawa senjata. Banyak sekolah yang memiliki peraturan khusus tentang bullying. Ada baiknya jika Anda mengetahui definisi sekolah tentang bullying, konsekuensinya, dukungan korban, dan prosedur pelaporan tindak bullying.

Sangat penting bagi anak Anda untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sekolah, sehingga Anda harus mendukung konsekuensi yang diberikan sekolah saat anak Anda melakukan pelanggaran. Akan lebih mudah bagi para siswa jika aturan di sekolah tidak jauh berbeda dengan aturan yang diterapkan di rumah. Penting untuk dicatat bahwa pendidik dapat memanggil aparat penegak hukum ke sekolah untuk pelanggaran berat dan konsekensinya tergantung dari umur siswa tersebut.

8. Ikut terlibat dalam kegiatan sekolah
Menjadi sukarelawan dalam acara sekolah anak Anda adalah cara yang tepat untuk menunjukkan bahwa Anda tertarik dengan pendidikannya.

Tapi ingat, sebagian anak SMP mungkin akan senang saat orangtua mereka hadir ke sekolah atau pada acara sekolah, dan sebagian lainnya mungkin merasa malu. Pahami isyarat mereka untuk menentukan seberapa besar interaksi tersebut berguna bagi Anda dan anak Anda, dan apakah Anda akan bersukarela mengikuti kegiatan sekolah atau tidak. Jelaskan bahwa Anda tidak bermaksud memata-matainya, Anda hanya berusaha untuk membantunya di sekolah.

9. Awasi absensi anak di sekolah
Anak remaja Anda sebaiknya beristirahat di rumah saat ia mengalami demam, mual, muntah, diare, atau penyakit lain yang membuatnya tak memungkinkan untuk beraktivitas. Namun selain itu, sangatlah penting untuk mereka datang ke sekolah setiap harinya, karena mengejar ketinggalan tugas kelas, proyek, ujian, dan PR adalah hal yang lebih sulit dan akan mempengaruhi proses belajarnya.

Jika anak terlihat sering beralasan untuk tidak masuk sekolah, mungkin ada alasan lain yang tidak ia beri tahukan, misalnya bullying, tugas yang susah, nilai rendah, masalah sosial, masalah dengan teman, atau masalah dengan guru. Bicarakan hal ini dengannya untuk mencari tahu penyebabnya dan mencari solusinya.

Anak yang sering telat ke sekolah juga mungkin memiliki masalah kurang tidur. Menjaga anak remaja Anda memiliki jadwal tidur yang teratur dapat membantunya menghindari ngantuk di sekolah dan mengurangi keterlambatannya.

Untuk remaja yang memiliki masalah kesehatan kronis, para pengajar akan bekerja sama dengan keluarga dan membatasi tugas mereka sehingga mereka dapat menyesuaikan diri.

10. Luangkan waktu untuk bicara tentang sekolah
Biasanya cukup gampang untuk berbicara dengan siswa sekolah dasar tentang apa yang terjadi di kelas dan berita terbaru di sekolah. Tapi orangtua dapat menjadi terlalu sibuk dan melupakan pertanya ansederhana tersebut, padahal percakapan seperti ini dapat mempengaruhi kesuksesan anak Anda di sekolah.

Buatlah waktu untuk berbicara dengan anak Anda setiap harinya sehingga ia tahu bahwa Anda menganggap apa yang terjadi di sekolahnya itu penting. Saat anak Anda tahu bahwa Anda tertarik dengan kehidupan akademiknya, ia akan bersekolah dengan lebih rajin.

Karena komunikasi adalah jalur dua arah, cara Anda berbicara dan mendengar anak juga dapat mempengaruhi bagaimana anka Anda mendengar dan merespon. Sangatlah penting bagi Anda untuk mendengarkan dengan saksama, buat kontak mata, dan hindari melakukan hal lain saat berbicara (misalnya mengecek handphone). Pastikan Anda menanyakan pertanyaan yang jawabannya bukan hanya “iya” atau “tidak”, melainkan pertanyaan yang mengharuskan anak menjawab sambil menjelaskan.

Selain waktu makan, waktu yang tepat untuk berbicara adalah selama di dalam mobil, saat mengajak anjing jalan-jalan, saat menyiapkan makan, atau mengantri di toko. Tahun-tahun awal sekolah adalah waktu yang penting bagi orangtua untuk mengetahui dan mendukung pendidikan anak.

(sumber:hellosehat.com)

Tips Menumbuhkan Keberanian Anak

Keberanian merupakan salah satu sikap yang harusnya dimiliki oleh seorang individu, maka semestinya sikap ini ditumbuhkan sejak dini. Di sekolah atau saat anak-anak bermain, adakalanya kita melihat anak yang tampil sebagai anak baik. Ia selalu mengalah pada semua teman, seperti anak teman Anda ketika lauk makan siangnya diminta teman-temannya. Dan akhirnya dia rela makan siang hanya dengan nasi tanpa lauk. Atau, ada anak yang diam saja ketika mainannya diambil teman. Anak seperti ini sama sekali tak terlihat usahanya untuk  mempertahankan apa yang menjadi miliknya saat itu. Jika sikap mengalah seorang anak didukung dengan sikapnya yang penuh percaya diri, dan mampu memilah kapan ia perlu mengalah dan kapan tidak, maka anak tersebut  tergolong anak yang matang.  Namun, bila karena anak tersebut kurang percaya diri sehingga selalu mengalah pada teman, maka orang tua perlu hati-hati.




Yang perlu dilakukan orang tua sebelum menumbuhkan keberanian pada diri seorang anak, adalah mencari tahu penyebab ketidakberaniannya. Apakah merupakan sesuatu yang sama sekali baru dialami anak sehingga sebenarnya anak hanya ragu dan butuh sekedar motivasi. Atau ketidakberanian yang timbul karena rasa percaya diri yang rendah. Dari apa yang Anda sampaikan, sepertinya anak teman Anda memang kurang memiliki rasa percaya diri sehingga tidak berani mengambil sikap. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu menumbuhkan sikap berani pada anak. Bangun rasa percaya diri anak agar tidak selalu mengalah karena ia tak berani menampilkan dirinya sendiri, apalagi melawan orang lain yang dirasakan menggangunya.  Jelaskan bahwa ia punya kemampuan sama seperti teman-temannya. Karena anak teman Anda tidak pernah mau bermain, maka ia akan kurang mendapat kesempatan bersosialisasi. Anak  menjadi kurang pergaulan, pemalu, dan kurang percaya diri untuk berinteraksi. Kalau anak tidak mau keluar rumah, ajak teman-temannya untuk datang kerumahnya, agar sosialisasi dengan teman sebaya dapat tetap berlangsung. Latihlah anak untuk berani berkata “tidak” terhadap hal-hal yang dirasakannya tidak nyaman terhadap sesuatu yang diminta orang lain. Dia berhak untuk berkata “tidak”!  Jelaskan pula kapan saatnya ia bisa atau harus mengalah kepada temannya, dan kapan ia harus berkata ‘tidak’, terutama bila teman punya tujuan yang kurang baik.


Jangan lupa beri pujian dan dukungan atas usahanya ketika anak mulai menunjukkan keberanian. Hindari mengkritik, tak menghargai dan memberi label negatif kepada anak. Ada kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan sifat berani pada diri seorang anak. Misalnya, memberi kesempatan setiap anak untuk mau menjadi pemimpin pada kegiatan-kegiatan kelas, seperti memimpin doa dan memimpin barisan. Anak-anak yang belum berani akan termotivasi dengan melihat temannya yang berani memimpin. Lambat laun mereka akan terbiasa memimpin tanpa malu atau takut lagi. Ceritakan kepada anak pahlawan-pahlawan Islam yang gagah berani agar anak termotivasi untuk berani. Atau lakukan kegiatan seperti misalnya outbound sebagai sebuah ajang menumbuhkan sikap berani pada diri anak. Terakhir, anak perlu contoh yang baik dari orang tuanya. Jika orang tua memiliki sifat tertutup, tidak suka melakukan hal-hal yang baru, takut menghadapi tantangan, maka jangan terlalu mengharapkan anaknya memiliki sikap yang berani. Berilah contoh yang konkret kepada anak, agar anak mudah memahami dan semakin mudah untuk  menirunya.[]

Sumber : tipspendidikananak.web.id

Prof Dr Sarlito : "Test Sidik Jari Untuk Mengetahui Bakat, Itu Penipuan !"


Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada saya adalah tentang Test Sidik Jari untuk mengetahui kepribadian anak. Saya sendiri yang sudah 43 tahun malang-melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu sebelumnya tentang keberadaan test tersebut dan tidak mauambil pusing. Paling-paling penipuan lagi, pikir saya. Tetapi beberapa hari yang lalu, anak saya yang kebetulan juga psikolog, berceritera kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) temannya untuk bergabung dengan usaha dia dalam usaha test Sidik Jari. Lumayan, kata temannya itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak kecil, dan sekolah-sekolah, dan biayanya Rp 500.000,-per anak. Sebagai psikolog professional anak saya meragukan validitas dan reliabilitas (keabsahan dan kesahihan) test itu. Apalagi dengan job dan statusnya yang sudah mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di atas UMR, dia tidak mau ambil risiko, karena itu ia minta pendapat saya. 
Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun tidak percaya, tetapi saya penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal Psikologi (hampir seluruh dunia yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh mesin searcher dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA) dimana saya menjadi salah satu anggotanya.

Hasilnya menakjubkan, sekitar 40.000 tulisan yang mengandung kata “finger print”. Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira terkait dengan sidik jari dalam hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau kecerdasan anak. Hasilnya: NIHIL! Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit, Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada satu keluaran, yaitu tulisan
berjudul “Neurodevelopmental Interactions Conferring Risk for Schizophrenia: A Study of Dermatoglyphic Markers in Patients and Relatives”, oleh Avila, Matthew T.; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E.; Blaxton, Teresa A.; Thaker, Gunvant K. dalam Schizophrenia Bulletin, Vol 29(3), 2003, halaman 595-605. Jadi tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan antara gejala sakit jiwa skhizoprenia (yang dipercaya merupakan penyakit turunan) dengan pola sidik jari (yang juga merupakan bawaan), 
Sebaliknya, dari Google saya mendapat banyak sekali keluaran setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini. Bahkan ada iklan promo yang menawarkan test Sidik jari “hanya” untuk Rp 375.000 per anak.

Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang pernah mencoba test yang katanya pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah satu kalimat promosi mereka adalah bahwa “Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi daripada metode pengukuran lain. Klaim akurasi 87%”. Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. 
Tidak perlu berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara. Tetapi faktanya kan tidak seperti itu. Upaya manusia untuk mempelajari jiwa sudah berawal sejak zaman Socrates, 400 thn sebelum Masehi, dan melalui perjalanan sejarah yang panjang sekali, serta mendapat
masukan dari berbagai ilmu, termasuk ilmu faal dan kedokteran, serta matematika, Wilhelm Wundt baru menyatakan Psikologi sebagai Ilmu yang mandiri pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman (versi
Amerika oleh William James, di sekitar tahun yang sama di Universitas Harvard).

Pasca kelahirannya, Psikologi berkembang terus, termasuk mengupayakan berbagai teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk test IQ, minat, sikap, bakat, emosi dan seterusnya. Kemajuannya sangat langkah-demi-la ngkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan
sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena itulah maka langkah pertama saya
adalah mengecek jurnal ilmiah Psikologi untuk memastikan apakah test Sidik Jari ini termasuk metode yang diakui dalam Psikologi atau tidak. Di sisi lain, teknik analisis sidik jari juga sudah berembang sejak 1800an. Tahun 1880 Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem klasifikasi yang dibuatnya untuk
mengidentifikasi seseorang. Tahun 1901 teknik yang disebut Daktiloskopi ini digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di kalangan pegawai negeri, 1905 di Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai oleh FBI. Tetapi semuanya adalah untuk menentukan identitas fisik seseorang.
Misalnya, apakah benar sidik jari yang ditinggalkan pelaku di TKP (Tempat Kejadian Perkara) perampokan adalah milik si Fulan. Sebelum ditemukan system DNA, Daktiloskopi lah yang menjadi andalan Polisi.
Namun di kemudian hari, nampaknya teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya untuk identifkasi fisik, berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga. Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih sepupu Sir Charlis Darwin adalah penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari srtiap orang. Maka ia menerbitkan buku “Finger prints” (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian. Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan
keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi. 
Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita kenal adalah Astrologi (banyak di majalah-majalah wanita dan remaja, tetapi tidak pernah ada di Koran SINDO), Palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya mahasiswa sering saya pakai untuk merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sambil meraba-raba tangannya), Numerologi (meramal atau menjodohkan orang dengan menggunakan angka-angka tanggal lahir dsb.), Tarrot (dengan menggunakan kartu-kartu) dan masih banyak lagi.
Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap dengan literatur dan teknik masing- masing, dan memang nampaknya sahih dan canggih betul (ada yang putus dari pacar gara-gara bintangnya tidak cocok). 
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati, loh!).

Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan
alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan. Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh fator bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan oleh Psikologi . Teori yang berlaku
sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu untuk memeriksanya diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment)
dan duit yang lumayan banyak. Karena itu saya tidak pernah menyarankan orang untuk ikut psikotes kalau hanya untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih sia-sia lagi kalau buang duit untuk tes Sidik Jari. 
Dr Budi Matindas, psikolog (UI) menerangkannya jauh lebih simpel:
sidik jari permanen dari lahir sampai mati. Jiwa/ kepribadian berubah terus dari bayi sampai tua. Bagaimana sesuatu yang berubah bisa berkorelasi dengan sesuatu yang tidak pernah berubah?


Prof Dr Sarlito W. Sarwono ( Guru besar Psikologi UI) Tulisan ini dimuat di Koran
SINDO 15 Mei 2011. Atas permintaan banyak pihak, saya muat ulang di sini.
Sumber : tipspendidikananak.web.id

Mengenal 9 Tipe Kecerdasan Jamak


(Sumber gambar : archive.kaskus.co.id)
Mendidik anak bukan hal yang mudah. Guru dan orang tua harus paham betul dengan kondisi, perilaku dan karakter anak dengan baik. Di lingkungan kita sudah lazim dikenal bahwa anak yang pintar adalah anak yang nilai raport atau ulangan yang bagus atau hal-hal yang ukurannya sifatnya masih belum menjadi representasi menyeluruh dari kecerdasan anak. Seorang anak bisa jadi unggul di bidang tertentu dan lemah di bidang lain. Dengan kata lain, anak memiliki tipe kecerdasan yang berbeda-beda.

Teori yang dikembangkan oleh Howard Gardner, dari Harvard University, menyebutkan bahwa kecerdasan dapat dilihat dari 9 macam. Seringkali kita hanya menilai kecerdasan dari satu macam saja.

9 kecerdasan menurut Gardner adalah:
1. Kecerdasan Logika Bahasa (Logical-linguistic), yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan kata dan bahasa (orator, penulis, penyiar, dll).
2. Kecerdasan Logika Matematika  (Logical-mathematical) adalah  kecerdasan yang berkaitan dengan angka dan pemecahan masalah (ahli matematika, bankir, dll).
3. Kecerdasan Spasial  (Spatial), yaitu  kecerdasan yang berkaitan dengan gambar  dan citra visual (sutradara, desainer, seniman, dsb).
4. Kecerdasan Musik (Musical), yaitu  kecerdasan yang berkaitan dengan kepekaan terhadap tinggi rendah nada dan suara (penyanyi, komposer, dll).
5. Kecerdasan Kinestetik (Bodily-Kinesthetic), yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan gerak tubuh (atlet, penari, dsb).
6. Kecerdasan   Interpersonal   (Interpersonal), yaitu  kecerdasan   yang   berkaitan   dengan interaksi sosial (politisi, psikolog, pekerja sosial, dsb).
7. Kecerdasan  Intrapersonal  (Interapersonal), yaitu kecerdasan yang berkaitan pemahaman diri (psikolog, spiritualis, penulis, dll).
8. Kecerdasan   Naturalistik   (Naturalistic), yaitu kecerdasan   yang   berkaitan   dengan perhatian/kepekaan terhadap alam dan lingkungan (ahli biologi, pecinta alam, aktivis lingkungan, pendaki gunung, dll).
9. Kecerdasan   Eksistensial   (Existensial), yaitu kecerdasan   yang   berkaitan   kepekaan menghubungkan antara keberadaan diri (eksistensi diri) dengan alam semesta (filosof, spiritualis, ilmuwan, seniman, dsb).
Lebih lanjut dinyatakan bahwa 9   kecerdasan   tersebut   ada  pada  diri   setiap  orang   tetapi  dengan tingkat yang berbeda-beda. 
Hal ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki cara unik untuk menyerap dan mengaktualisasikan informasi dan pengetahuan.

Guru, pendidik dan orang tua seharusnya mampu mengenali kecerdasan anak sesuai tipe-nya sehingga dapat memberikan motivasi dan arahan yang tepat agar anak dapat mengembangkan diri sesuai kecerdasan yang dimilikinya.
Sumber: Wikipedia

10 Cara Kreatif Mengajar Matematika


(Sumber gambar : resapilah.tk)
Berikut ini ada beberapa aktifitas di kelas untuk menumbuhkan kreativitas dalam pengajaran matematika. Dalam pengajaran, sering-seringlah mengajukan pertanyaan kritis seperti “Apakah Kamu mencoba ini?” “Apa yang akan terjadi jika ada ini ?” “Apakah kamu dapat?” untuk meningkatkan pemahaman anak-anak dari ide-ide dan kosakata matematika. Berikut beberapa aktifitas yang mungkin dapat dipraktekkan di kelas:

1. Gunakan dramatisasi. Ajaklah anak-anak berpura-pura berada di sebuah bola (sphere) atau kotak (prisma), merasakan sisi-sisinya, ujung-ujungnya, dan sudutnya dan menyandiwarakan secara sederhana masalah aritmatika seperti: Tiga katak melompat dalam kolam dsb.
2. Menggunakan anggota tubuh anak-anak. Menyarankan agar anak-anak menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya. Ketika diminta untuk menampilkan “tiga tangan,” mereka akan menanggapi dengan protes keras, dan kemudian menunjukkan berapa banyak tangan yang mereka memiliki( “membuktikan”) ini. Kemudian mengajak anak-anak untuk menampilkan nomor dengan jari, dimulai dengan pertanyaaan sederhana, “Berapa usia Kamu?” Kemudian siswa diminta menunjukkan angka yang diminta guru. Selain itu guru menampilkan angka dalam berbagai cara (misalnya, menunjukkan lima dengan tiga pada jari tangan kiri dan dua di jari tangan kanan).
3. Menggunakan permainan. Melibatkan anak-anak bermain yang memungkinkan mereka untuk melakukan matematika dalam berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan bangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian memperkenalkan permainan jual-beli di toko, menunjukkan anak-anak permainan membeli dan menjual mainan atau benda kecil lainnya, belajar menghitung, aritmatika, dan konsep uang.
4. Menggunakan mainan. Mendorong anak-anak untuk menggunakan “adegan” dan mainan untuk simulasi kejadian nyata, seperti tiga mobil di jalan, atau misalnya, untuk menunjukkan ada dua monyet di atas pohon dan dua di atas tanah.
5. Menggunakan cerita anak-anak. Bercerita tentang sebuah kisah menarik yang didalamnya berisi konsep matematika. Jika perlu diperagakan khususnya untuk memperjelas konsep matematikanya
6. Gunakan kreativitas alami anak. Menggali ide anak tentang matematika harus didiskusikan dengan mereka. Misal seorang anak 6 tahun ditanya begini: “Pikirkan angka terbesar yang kamu tahu, lalu tambah angka itu dengan lima. Bayangkan kamu memiliki coklat sejumlah angka itu”. “Wow, itu 5 angka lebih besar yang kamu tahu”.
7. Menggunakan kemampuan pemecahan masalah. Menanyakan anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah-masalah seperti mendapatkan hanya cukup untuk mereka gunting tabel atau berapa banyak makanan ringan mereka perlu jika tamu yang bergabung dengan grup. Mendorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau apapun yang mungkin berguna untuk memecahkan masalah.
8. Menggunakan berbagai strategi. Bawalah matematika dimanapun di dalam kelas, dari menghitung jumlah anak-anak di pagi hari, menghitung meja kursi, meminta anak-anak untuk membersihkan barang yang ada nomor tertentu, atau membersihkan barang yang berbentuk geometris tertentu dsb.
9. Menggunakan teknologi. Cobalah gunakan kamera digital untuk memotret hasil kerja anak, permainan dan aktifitas yang dilakukan, dan kemudian menggunakan foto untuk diskusi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan juga teknologi lain, seperti komputer secara bijak.
10. Gunakan assessment untuk mengukur penilaian anak-anak belajar matematika. Menggunakan observasi, diskusi dengan anak-anak, dan kelompok-kecil untuk kegiatan belajar anak-anak tentang matematika dan berpikir untuk membuat keputusan tentang apa yang mungkin setiap anak dapat belajar dari pengalaman. Juga mencoba menggunakan komputer untuk penilaian menggunakan program secara otomatis.
Sumber: 
www.scholastic.com